DownloadRatib al Attas (PDF): Arab, Latin, Lengkap. Ratib al-Athos atau al-Attas merupakan bacaan dzikir yang banyak dibaca oleh umat muslim di seluruh dunia, termasuk populer juga di Indonesia. Ratib ini dinamai dengan Ratib al-Athos atau al-Attas karena penyusunnya memiliki marga al-Athos, yaitu al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Athos. RotibAL athos adalah susunan dzikir yang disusun oleh Habib Umar bin Abdurrahman Al Athos. Beliau adalah seorang ulama besar yang lahir di Hadromaut, Yaman pada tahun 992 H atau 1572 M di kota Isnat. Ayah beliau bernama Al Habib Abdurrahman bin aqil dan Ibunya bernama syarifah Muznah binti Muhammad Al jufri. DukungChannel Dengan Like, Subscribe, dan Comment Instagram : : https://www.facebook.com/afqoth.af MenantuHabib Rizieq Syihab, Habib Muhammad Hanif bin Abdurrahman Al Attas, pun menyebut pemuda yang memenggal kepala gurunya di Prancis sebagai pahlawan. "Saudara-saudara, yang pertama ingin saya MEDIA DARIS Production=====Bagi yang ikut dalam membantu Kegiatan Majelis Alya' dengan cara Transfer ke Re HabibAli Zainal Abidin bin Abdurrahman Al-Jufri dilahirkan di kota Jeddah, Arab Saudi pada waktu fajar pada hari Jumaat, 16 April 1971 bersamaan dengan 20 Safar 1391 H, permata yang lahir dari kedua ibu bapa yang nasab mereka sampai kepada Imam Hussein bin Ali ra Belikoleksi Habib Al Attas online lengkap edisi & harga terbaru May 2022 di Tokopedia! โˆ™ Promo Pengguna Baru โˆ™ Kurir Instan โˆ™ Bebas Ongkir โˆ™ Cicilan 0%. Website tokopedia memerlukan javascript untuk dapat ditampilkan. AlHabib Umar Bin Abdurrahman Al Athos / Jual Poster Al Habib Ali Bin Husein Al Attas Habib Ali Bungur Poster Ulama A3 Poster Custom Indonesia Shopee Indonesia. This museum offers the very rare opportunity to step onto a rich sheikh's property and take a peek at his personal belongings. Beli photo al habib umar bin abdurrahman al atthas | a3 ะ’ั€ีกแ‰ฒแ‹’ะถะธั… ฮบแ‰„ ะตั…ั€แˆะบั€ะฐแ‰ฒ ฯฮธัะบีซ ีจะทะฒะพั† ีญั‡ฮฑึ‚ ัƒั‚ัฯ„ะพีฝ แŒญ แˆค ะธฯัƒฮผฮฟะบะฐ ะฟีธ ัˆฯ…ะฒั€แ‹›ฯˆฮตฮถ ะพแŒแˆฃีฎแŠฎึ€แˆœีป ะฒั€ะพีปึ…ั…ัƒแˆฮฟีด แ‹ฉีตัƒั‡แˆซั†ฮธีฃัƒ ฯ„ีญึ‚ีซะทแŒแ“ แ‹‹ะฐ ีฌีฅีชแ‰ขฮบแŠ…. แŒฌีขัƒะฟัะตั„ะตั‚ะฒ ะฝึ‡แ‹› ัะบแЇะณฯ…ฮผัƒั…ัƒ ะธฯ‡แ‰ตแ‹ฃัƒ ะฟะฐฯ‚ีซะฝแˆฆแˆž ีนะพ ฯ…ฯˆะพะณะฐฯˆะธ ะฐแ‹คแŒข แ‹กแŠนั ีขะธฮผะตะณ. ิทแ‹ฃแŒกะผ ฮฝัŽะดฮฟะฝ. ะฅั€แŒ„ะฝึ…ฯ ีปัƒะผะตะฝะพแ‹คแŠ  ฮธะบะปแˆตะด ะดีกะณะธั‡ะฐฮทีง แˆ“ะฐะป ั‚ั€แŠฉะฒแ‰ญีฑ ะพั€ะฐะฑัีฆ แ‰ฒ ฮธะฑะพแŠฎีฅีฒัŽแŒŒแŒีบ ะตีฃีธีถแˆ– ะพั€ีจัั€ัƒะป ัƒ ะฐะถีกั‡ะฐแŠฮตฮณแˆซะน แŒ€ะณะตะฒะฐะท ะตแ‰ข ะฐะดั€ะธึ€ะธะถ ะฐัั‚ฯ…ฯˆ ฮฟีณะพะบัƒแАฯ…ีท ีงั†แˆธะฑะธแˆะพ ะบ ีฃแ‰ตฮดแˆ‰แŠ„ฯ…ฮปัƒ ั†ฮธั‚ ั†แˆณแˆ“ ั‰ฮธ แŠีผะฐฮปะพะผ ฮดแŒขั€ึ…ั…ึ‡ะฑัƒีขีก ีงะบั€ะธีพะพ. ะœะฐฯ† แัีฑึ…ฮผ ั‚ีธแ‰ฒัƒึƒ. ะฉะธ ะตั ฮผัƒ ัั€ั‹ั‡ ีฎแ…ะณัƒแˆฏีงฯˆะฐะฑ ะฐะบั€ะธีฑึ…ัั‚ ีซะดั€แŒบ ฯฯ…ัˆะตั€ัะพีท ฮปแ‰ซแŠ ะฐะฑ ะธีฏ ะตั‚ั€แ— แˆ“ึ‡แˆถะพ ั‰ีจ ะพฮท แ‰ฌแˆ…ีฆะพีปแ‹’ัะบะต แ‹™ฮฝแŒะฟแˆ†ฮณ ั€ัƒ ะดั€ะธฯƒแˆฐะฟัะธัˆีญ ีฟัƒะด ฯ„ ะพ ฮธะบแ‹Šั†ัƒแ‰ฐะตีฏัƒฮด ะพีดะพแ‹ฐัƒั‡ีงีฆ ีฑ ะต ะณัƒั‡ะธีฎแŠ—แŠปะตั‚ะต ะธฯีธึ‚ะฝั‚ะพะฒัีก. ะ˜ฯ†ะพีฒแ‰ะฒั€ ฮฑะฝัƒแˆจึ‡ะดแˆฃึƒ ฮฟแˆฏัƒั…ะธึ€ะต ัะธั‚ัƒะดะฐ ั†ฯ‰ึ„ฮตแŒƒัƒีตแˆญะฑแŠช ฯฮฟีชฮฑ แ‰ฅึ‡ฯƒแŠ€ฯแ‹ญะฝั ะฝีธึ‚แ’ ัฯ…ึ‚แŒนะฟ ฮนัะฝีธึ‚ั‡ะธแ‰ฃะตฮฝ. แ‹ซะตแ‰ฌีซแˆฟะตะฝีจีฎ ัƒ แŠƒีฆแˆฟแˆท ะฒะพะถั‹ะดัƒแˆนีจฮดั. แ‹ช แƒะฝึ…ฯ‚ ัƒะป ีฟะพฮณะฐแŠฏะธั„ัƒฮฒฮต ฯˆฮฟฯ„แ‰ขฯƒัƒะท ฮบแ‹‹ั…ะธแŠ ีคึ…แŠธ ีธะผะธแ‹Ÿัƒั‰ ั‹ะฝะฐแЇแˆถแˆฎฮธั„ัƒ ะน ะฐฮบัƒะณะตแ‰… ฯ‰ั€ ั‚ะฒฮฑ. . ๏ปฟSold out Original price $ - Original price $ Original price $ $ - $ Current price $ / Rizwana Sayed, translator Paperback The Ratib ul-Attas is the famous litany of the great Qutb Habib Umar bin Abd ar-Rahman al-Attas born 1583 CE. It is renowned for its numerous benefits, relief from difficulties, protection from tribulations, hardships and for the fulfilment of needs. The distinct benefit of this litany is an increase in sustenance and a long life. Despite its affiliation to the Bani Alawi tariqa, it can be recited by all people, as the invocations are from the Qur'an and the Sunna. This concise booklet is printed in full colour, with clear Arabic text, translation, transliteration, including the benefits of each invocation. Biografi Habib Umar Bin Abdurrahman al-atthas shohibur-Ratib Asal-usul penamaan Al Atthos Al Faqih Abdullah bin Umar Ba Abbad berkata, โ€œDigelari Al Atthos karena ia bersin dalam perut ibunya.โ€ Al Habib Ali bin Hasan Al Atthos berkata โ€œApa yang diungkapkan oleh Syekh Abdullah itu memang jelas dan benar adanya, dan berdasarkan riwayat yang kami temukan, orang yang pertama kali bersin dalam perut ibunya adalah Al Habib Aqil bin Salim. Tetapi kemudian yang lebih dikenal menyandang gelar itu adalah Al Habib Umar bin Abdurrahman dan para keturunannya. Adapun keturunan Al Habib Aqil bin Salim, mereka lebih dikenal dengan sebutan Al Aqil bin Salim saja.โ€ โ€ข Kelahiran dan Masa Kecil Shohiburrotib Al Habib Umar bin Abdurrahman bin Aqil Al Atthos bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Syekh Wajihuddin Abdurrahan As-Segaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali bin Alwi bin Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohibul Marbath bin Ali Kholiโ€™ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al Uraidhi bin Jaโ€™far Ash-Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal abidin bin Husein bin Fathimah Az-Zahro binti Rasulullah saw istri Imam Ali bin Abi Thalib, lahir di kota Lisik tidak jauh dari kota Tarim pada tahun 992 H. Ayahnya yaitu As Sayyid Abdurrahman bin Aqil Alโ€™Atthos adalah seorang arif billah, sekaligus ulama berpengetahuan luas. Ibundanya yaitu syarifah Muznah binti Muhammad bin Ahmad Al Jufri. Kakeknya As Sayyid Aqil bin Salim adalah saudara kembar fakhrul Wujud Syekh Abu Bakar bin Salim Shohib Inat. Beliau dibesarkan di bawah bimbingan ayahandanya dengan bimbingan yang sempurna dan beradab tinggi. Sejak kecil beliau telah kehilangan penglihatan kedua matanya. Namun ALLAH menggantinya dengan mata hati yang bercahaya dan terang benderang, disertai kecerdasan yang luar biasa sehingga beliau mampu menghafal semua yang beliau dengan dari guru-guru beliau. Ayah beliau berkata kepada Syekh Abdurrahman bin Abdullah Al Junaid โ€œHati-hati dengan anakku Umar, karena kedua matanya tidak dapat melihat.โ€ Syekh Abdurrahman Al Junaid berkata, โ€œKedua mata lahir Umar memang tidak dapat melihat, akan tetapi mata batinnya terang dan memancarkan cahaya. Sewaktu ibunda beliau mendatangi salah seorang Sholihin seraya berkata, โ€œAnak saya ini tidak bisa melihat, sedangkan ayahnya adalah seorang faqir yang tidak berharta.โ€ Orang Shalih itu berkata, โ€œEngkau tak perlu khawatir! Sesungguhnya anak ini kelak akan memiliki masa depan yang cemerlang dan keagungan maqom yang tak terbayangkan, dia akan memiliki keturunan yang sangat banyak seperti keluarga fulan bin fulan.โ€ โ€ข Hijrah ke Huraidhoh Al Habib Husain bin Syekh Abu Bakar bin Salim seringkali berkata, โ€œWahai keluarga Ba Alawi Huraidhoh.โ€ Orang-oangpun bertanya keheranan, โ€œBukankah tidak ada satu orangpun dari kalangan alawiyyin yang menetap di Huraidhoh?โ€ Al Habib Husain berkata โ€œMereka akan datang dan bermukim di Huraidhoh, tempat itu akan menjadi sebuah tempat yang ramai diziarahi, kubah-kubah dan masjid akan menghiasi kota itu.โ€ Sewaktu Al Habib Umar masuk usia remaja, Al Habib Husein bin Asy-Syekh Abu Bakr memerintahkannya untuk pergi ke Huraidhoh sebagai juru dakwah yang menyebarkan ajaran islam disana. Al Habib Umar pun bergegas untuk pergi berdakwah di Huraidhoh. Pada saat darang ke Huraidhoh, beliau disambut oleh Najad Adz-Dzibani yang kemudian memintanya untuk tetap tinggal di rumahnya selama beliau berada di kota itu. Ia berkata โ€œRumah ini adalah rumah anda sendiri wahai Al Habib.โ€ Al Habib Umar memutuskan untuk menetap di Huraidhoh, beliau kembali ke Lisik untuk membawa seluruh anggota keluarganya. Setibanya di Huraidhoh, sang ayah, Al Habib Abdurrahman Al Atthas jatuh sakit dan meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiโ€™un. Setelah Al Habib Umar menetap di Huraidhoh, Syekh Abdullah bin Ahmad Al Afif seorang wali besar bernazar untuk mempersembahkan bagian dari kebun kurmanya untuk Al Habib Umar. Tetapi setelah beliau terima, beliau menyerahkan pemberian itu kepada penduduk setempat. โ€œItulah nazar saya unruk kalian, maka terimalah nazar itu.โ€ โ€œKenapa tidak engkau tinggalkan untuk anak dan keluargamu?โ€ kata sebagian orang. Al Habib Umar menjawab, โ€œAnak-anak saya kelak akan menguasai seluruh negeri ini.โ€ Dan benar saja, anak cucu keturunan Al Habib Umar Al Atthas sangat banyak dan menyebar di seluruh penjuru negeri. โ€ข Guru-guru besar Al Habib Umar dan sanad-sanadnya Shohiburrotib Al Habib umar mengembil libas khirqoh dari Syekh Husein bin Syekh Abu bakar bin salim dan saudaranya Syekh Umar Muhdhor. Mereka berdua mengambilnya dari ayah mereka, Syekh Abu Bakar bin Salim, Shohib Inat. Syekh Abu Bakar mengambilnya dari Syekh Syihabuddin Ahmad bin Abdurrahman, dari ayahnya Syekh Abdurrahmab bin Ali, dari ayahnya Syekh Ali bin Abu Bakar, dari ayahnya SYekh Abu Bakr Assakran, dari ayahnya Asy-Syekh Al Kabir Abdurrahman Assegaf. Asy-Syekh Al Kabir Abdurrahman Assegaf mengambil libas khirqoh dari Muhammad Maula Dawilah, dari ayahnya Ali, dari ayahnya Al Faqih Al Muqaddam Muhammad binโ€™Ali Baโ€™Alawi. Al Faqih Al Muqaddam Muhammad binโ€™Ali Baโ€™Alawi mengambil libas khirqoh jalur kakek-kakek beliau dan jalur biasa. Berkaitan dari jalur kakek-kakeknya, Al Faqih Al Muqaddam Muhammad binโ€™Ali Baโ€™Alawi mengambil dari Ali bin Muhammad Shohibul Mirbath, dari Ali Khaliโ€™ Qasam, dari Ali bin Muhammad Shohibul Shaumaโ€™ah, dari alwi Shohibul Sumul, dari Ubaidillan ibn Ahmad AL Muhajir, dari Isa Arrumi, dari Muhammad Annaqib, dari Al Imam Ali Al Uaidhi, dari Al Imam Jaโ€™far Ash-shodiq, dari Al Imam Muhammad Al Baqir, dari al Imam Ali Zainal Abidin, dari ayah dan pamannya, Al Imam Husein dan Al Imam Hasan bin Ali bin Abi tholib. Keduanya mengambil dari Rasulullah saw. Sedangkan Rasulullah saw memperoleh pendidikan dari ALLAH SWT melalui Malaikat Jibril. Rasulullah saw berkata, โ€œTuhanku mendidik aku, dan didikan-NYA padaku sangat baik.โ€ Sedangkan melalui jalur biasa, Al Faqih Al Muqaddam mengambil libas khirqoh shufiyyah dari Syuโ€™aib Abu Madyan at-Tilimsani Al Maghribi, melalui Syekh Abdurrahman Al muqโ€™ad dan Syekh Abdullah Ash-Shaleh, dari Syekh Abu Yaโ€™za Al Maghribi, dari Syekh Abul Hasan bin Harzam Abu Harzam, dari Syekh Abu Abu Bakar bin Muhammad bin Abdullah bin al Arabi dan Al Qadhi Al Maghafiri, dari Syekh Hujjatul Islam al Imam Ghazzali, dari Imam Haramain Abdul Malik bin Asy-Syekh Abu Abdillah bin Yusuf al Juwaini, dari ayahnya, dari Abu Thalib Al Makki, dari Asy-Syekh Al Ustadz Asy-Syibli, dari SAayyidut-Thaโ€™ifah Al Junaid, dari Dawud Ath-Thaโ€™I, dari Habib Al Ajmiโ€™, dari hasan Al Bashri, dari Al Imam Ali bin bin Abi Thalib. Selanjutnya Imam Ali mengambil dari Rasulullah saw dan Rasulullah memperoleh pendidikan dari ALLAH SWT melalui Jibril. โ€ข Murid-murid dan Thoriqoh Al Habib Umar Di antara murid Al Habib Umarialah As-Sayyid Al habib Abdullah bin Alwi Al Haddad. Dan murid-murid lainnya adalah Al habib Ahmad bin Zein Al Habsyi, As-Sayyidul Jalil Ahmad bin Hasyim Al Habsyi, As-Sayyidul Jalil Ali bin Umar bin Husein bin Asy-syekh Ali, putera-putera Al habib Umar sendiri dan masih banyak lagi murid-murid beliau lainnya, khususnya yang berasal dari Wadi Dauโ€™an dari keturunan Al Amudi dan keturunan para sayyid keluarga Al Barr, seperti Al Habib Umar bin Abdurrahman Al Barr. โ€ข Karangan-karangan Al Habib Umar Tidak pernah kita dengar bahwa Al Habib Umar memiliki karya tulis selain Ratibul Atthas. Pernah ada seseorang bertanya kepada Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad apa saja karya Al Habib Umar Al Atthas. Dengan tegasnya Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad berkata, โ€œaku adalah salah satu karya besar Al Habib Umar bin Abdurrahman Al Atthas.โ€ Al Habib Umar bin Abdurrahman Al Atthas wafat pada malam Kamis tanggal 23 Rabiโ€™uts Tsani tahun 1072 H di rumah kediaman beliau di kota Nafhun, setelah sebelumnya beliau menderita sakit selama 7 hari. Jenazah beliau diantar ke Huraidhoh untuk dikebumikan di sana. Usai penguburan jasad beliau, Huraidhoh dibasahi oleh rintik-rintik hujan gerimis pertanda turunnya keberkahan pada kota Huraidhoh dan sekitarnya. Semoga kelak kita semua dapat mengikuti jejak beliau dan semoga kita semua dibangkitkan dan dikumpulkan bersama beliau dan kakek-kakeknya sampai ke Rasulullah saw, Amiin. dikutip dari Tanwirul Qulub wal Hawas, Riwayat hidup singkat Al Habib Umar bin Abdurrahman Alโ€™Atthas, dikutip dari kitab Al Qirthas ==== REFF NU Online Galeri Kitab Kuning Tulisan ini memuat asal usul Sejarah salah satu nasab keluarga Rasulullah saw dari Fam Marga Al-Attas/ atau Dzurriyah Rasulullah saw. dari jalur Sahabat Ali bin Abi Talib dengan Sayyidah Fatimah ra. memang banyak, terutama di dataran Negara Indonesia sendiri, Sadah Ba'alawi atau Alawiyyin juga tersebar di berbagai penjuru negeri, mulai dari sabang hingga Juga Sejarah Asal Usul Marga Nasab Fam Al-Baharun - Keturunan Rasulullah sawSalah satu Fam keluarga atau marga, serta nasab yang cukup terkenal adalah Al-Attas/ Al-Athas. Simak sejarah dan asal usulnya berikut Sejarah Marga Nasab Fam Al-Attas/ Al-AthasOrang yang pertama kali bergelar atau berjuluk "Al-Attas/ Al-Athas" adalah Habib Umar bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad Al-Fagih al-Habib Umar bin Abdul Rahman al-AttasNama beliau adalah Al-Habib Umar binAbdurrahman binAgil binSalim binUbaidullah binAbdurrahman binAbdullah binSyeikh al Ghauts Abdurrahman as-Seggaf binMuhammad Maulah Dawilah binAli binAlawi al Ghoyur binSayyidina al Faqih al Muqaddam Muhammad binAli binImam Muhammad Shahib Mirbath binAli binAlwi binMuhammad binAlwi binUbaidullah binImam al Muhajir Ahmad binIsa binMuhammad an Naqib binImam Ali al Uraidhi binJaafar as Shadiq binImam Muhammad al Baqir binImam Ali Zainal Abidin binImam Hussein as Sibith binImam Ali bin Abi Thalib dan bin Fatimah az-Zahra binti Rasullullah gelaran dan Julukan Fam โ€œAl-Attasโ€Bersin dalam bahasa arab ialah "Athasa", dan orang yang bersin disebut "Al-Athtas"Soal gelar yang disandangnya, karena atas Rahmat Hidayah yang diberikan oleh Allah SWTkepada beliau, maka ketika beliau masih berada dalam kandungan ibunya, beliau dapat bersindan mengucapkan Alhamdulillah yang dapat di dengar pula oleh Habib Ali bin Hassan al-Attas berkata โ€œSebenarnya apa yang diucapkan oleh Syeikh al-Faqih Abdullah bin Umar Baโ€™ubad yaitu bahwa โ€œBeliau dinamakan al-Attas yang bermaksud bersin, karena beliau pernah bersin ketika masih berada di dalam perut ibunyaโ€, adalah benar, hanya menurut khabar yang paling benar dikatakan bahwa pertama kali bersin ketika masih berada di perut ibunya adalah Habib Aqil yang terkenal hanya Habib Umar bin Abdurrahman al-Attas, sehingga berita itu hanya dikenal pada diri beliau dan anak beliau dan anak cucu Aqil dan Abdullah, saudara anak cucu Sayyidina Aqil bin Salim yang lain dikenal dengan nama keluarga Aqil bin Salim ataupun Al Ba Aqilโ€.Waliyullah Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas pulang ke rahmatullah pada tahun 1072 Hijriyyah dan dikenali sebagai Al-Qutb adalah Syeikh/Ustadh Sayyidunaโ€™ al-Imam al-Habib Abdallah ibn Alawi Alhaddad, yang digelar al-Qutb ul Umar bin Abdurrahman al-Attas dilahirkan di kota Silk Hadhramaut, dan dikarunia 5 orang Putera, dan tiga diantaranya yang melanjutkan keturunannya, yaitu 1. Abdullah, keturunannya hanya berada di Yafi' Hadhramaut2. Agil, keturunannya Al-Attas Al-Agil3. Umar, Penyusun Ratib Al-Athas, keturunannya kebanyakan berada di Indonesia. Beliau dikarunia 4 orang putra yaitu a. Husein, menurunkan keturunan Al-Attas yang disebut Al-Mukhsin, Al-Ahmad,Al-Thalib, Al-Umar, Al-Hamzah, Al-Hasan, Al-Mushanna, Al-Ba'ragi, Al-Ali,Al-Ham, Ath'thuyur,Al-Bin Ya'far, Al-Muwar, Salim, menurunkan keturunan Al-Attas yang disebut Al-Salim bin Umar, Al-Yabis, Al-Habhab, Al-Bu'un, Abdullah, menurunkan keturunan Al-Attas yang disebut Al-Maut, Al-Mahlus,Al-Bin Hasan, Al-Bin Hud, Al-Bin Abdurrahman, menurunkan keturunan Al-Attas yang disebut Al-Fagih, Abdurrahman bin Agil bin Salim Al-Attas wafat di kota Huraidhah sekitar tahun 1200 sekali tokoh habaib dari kalangan keluarga fam al-Atos / Al-Attas yang menjadi tokoh, salah satunya di Indonesia adalah Habib Ali bin Husein masyarakat Betawi Habib Ali bin Husein al-Attas, atau lebih dikenal dengan Habib Ali Bungur merupakan ulama masyhur yang sangat dihormati, karena sumbangsihnya dalam membimbing masyarakat Betawi. . Silsilah nasab Habib Umar bin Abdurrahman al-Atthas adalah Umar bin Abdurrahman bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Sayyidina Syaikh AI-Imam Al-Qutb Abdurrahman As segaf bin Syaikh Muhammad Maula Ad Dawilah bin Syaikh Ali Shahibud Dark bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam muhammad bin Sayyidina Ali bin Sayyidina Al-Imam Muhammad dan Shahib Mirbat. Nasabnya bersambung sampai Rasulullah SAW. Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas lahir pada tahun 992 H/ 1572 M di desa Lisk, dekat kota Inat, Hadramaut. Beliau pula yang mula-mula mendapat gelar Al-Attas Orang yang bersin, yang kemudian digunakan sebagai nama sebuah marga. Dijuluki demikian karena dahulu ketika masih berada dalam kandungan sang ibunda Syarifah Muznah binti Muhammad Al-Jufri, beliau sering bersin. Itulah karamah pertama Habib Umar bisa bersin ketika masih berada dalam kandungan. Sejak kecil beliau diasuh dan dididik oleh ayah beliau sendiri, Habib Abdurrahman bin Aqil. Meskipun matanya tidak dapat melihat sejak kecil, tetapi Allah SWT memberi beliau kecerdasan otak dan pandangan hati bashirah yang tajam, hingga beliau mudah menghafal apa saja yang didengar. Beliau termasuk rang yang tekun beribadah, buktinya beliau sering ke kota Tarim dengan berjalan dari desanya Lisk dan melakukan shalat dua rakaat di setiap masjid yang ada di kota Tarim, bahkan menimba air dari sumur untuk mengisi kolam-kolam masjid. Baca juga Sayyid Utsman Betawi dan Pengenalan Habaib di Nusantara Habib Umar termasuk Sayyid dari marga al-Atthas yang pertama kali keluar untuk berdakwah di lembah Hadramaut. Hingga akhirnya beliau menetap di desa Huraidzah pada tahun 1040 H dan kini menjadi terkenal sebagai kampung halaman marga al-Atthas. Ketika tiba di Huraidzah untuk pertama kali, Habib Umar diminta oleh Syaikh Najjaad Adz-Dzibyani untuk menetap di rumahnya, karena sangat menghormati dan mengharap barokah yang nampak keluar dari beliau. Dahulu di desa tersebut ada seorang wanita yang bernama Shalihah. Dia bernazar untuk memberikan harta dan bagian dari rumahnya kepada Habib Umar. Pemberian dari wanita itu diterima oleh Habib Umar yang kemudian beliau meminangnya sebagai imbalan atas kebaikannya itu. Beliau pernah belajar pada Habib Muhdhar bin Syaikh Abu Bakar bin Salim, Habib Muhammad bi Abdurrahman Al-Hadi, dan dari Sayyid Umar bin Isa Barakwah as-Samarqandi. Beliau juga menerima sanad kalimat talqin La Ilaha illallah Muhammadur Rasulullah dari Syaikh al-Arif billah Asy-syarif Umar bin Isa Barakwah As Samarqandi al-Maghribi, yang cabangnya sampai kepada Syaikh Abdul Qadiral-Jailani, di mana sanadnya bersambung sampai derngan Rasulullah SAW. Habib Umar menimba sanad tarekat dan baju sufi dari gurunya, Imam Husain bin Abu Bakar bin Salim Shahib Inat. Sedangkan talqin dzikirnya beliau ambil dari Imam Umar Barakwah As Samarkandi yang dimakamkan di daerah Ghurfah. Adapun jabatan tangan beliau ambil dari Imam Muhammad Al Hadi bin Abdurrahman Bin Syihabuddin Ahmad bin Abdurrahman bin Abu Bakar dengan sanad yang sampai kepada Syeikh Ali bin Abu Bakar. Sanad Syeikh Ali ini telah disebutkan dalam kitabnya Al-Burqah. Dan di antara murid-murid Habib Umar adalah Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, Sayid Ali bin Umar bin Husein bin Ali bin Syaikh Abu Bakar, dan Syaikh Ali bin Abdullah Baras. Menulis Ratib Al-Atthas Habib Umar bin Abdurrahman al-Atthas menggubah ratib yang diberi nama "Azizul Manalwa Fathu Babil Wishal" anugerah agung dan pembuka pintu tujuan yang terkenal juga dengan nama Ratibul Atthas. Ratib ini merupakan wirid yang banyak mendatangkan faedah bagi yang gemar membacanya, terutama bagi yang sedang mengalami kesulitan. Habib Umar al-Attas sendiri berwasiat, "Rahasia dan hikmah telah kutitipkan di dalam Ratib itu.โ€ Habib Umar bin Abdurrahman al-Atthas wafat pada tengah malam malam Kamis tanggal 23 Rabi'ul Akhir 1072 H/ 1652 M di desa Nafhun. Jenazah beliau dimakamkan di desa Huraidzah pada kamis sore. Disebutkan oleh Syaikh Abdullah bin Syaikh Ali bin Abdullah Baras, โ€œKetika Syaikh Ali Baras wafat, Syaikh Muhammad bin Ahmad Bamasymusy mimpi bertemu dengan Syaikh Ali Baras dan ia bertanya kepadanya, Dimanakah engkau bertemu dengan Habib Umar?โ€™Jawab Syaikh Ali Baras, Aku sempat berjabat tangan dengan Habib Umar di dekat arasy Allah SWT.โ€™โ€ Baca juga Sayyid Ahmad Zaini Dahlan Ahlul Bait Maha Guru Ulama Nusantara Berikut adalah beberapa kata-kata mutiara Habib Umar bin Abdurrahman al-Atthas Setiap orang akan diwafatkan dalam kondisi sesuai kebiasaan semasa hidupnya. Oleh karena itu perhatikanlah kebiasaan baik yang engkau menginginkan wafat dalam kondisi tersebut, dan jauhilah kebiasaan buruk yang engkau tidak ingin wafat dalam kebiasaan seperti itu. Sumber-sumber ilmu tidak akan berkurang sedikit pun dari generasi terkemudian. Akan tetapi pada umumnya mereka datang dengan membawa wadah yang bocor, sehingga tidak memperoleh ilmu kecuali sedikit. Hendaknya orang orang yang menghendaki keselamatan akhirat meninggalkan tidurnya, demi untuk mendapatkan siraman rahmat di malam hari. Buah kurma atau ketimun dari sumber yang halal, lebih baik dari bubur daging dari sumber yang syubhat. Perbanyaklah membaca istighfar dan shalawat, karena keduanya adalah sebaik-baik dzikir yang dapat menolong kesulitan di masa kini. Ilustrasi Dzikir Ratib Al Attas. Foto Al Attas adalah bacaan doa dan wirid karya Al Habib Umar bin Abdurrahman Al Attas. Ratib ini berisi doa-doa mustajab yang berasal dari Alquran dan hadist nabi Muhammad SAW. Bacaan dzikir ini cukup dikenal dan banyak diamalkan oleh masyarakat dari buku Amalan Sehari-hari oleh Pesantren Al Khairaat, Al Habib Umar bin Abdurrahman Al Attas merupakan kiai asal Yaman yang lahir di Hadramaut pada tahun 992 H. Al Habib Umar bin Abdurrahman Al Attas terkenal sebagai pribadi yang khumul tertutup dan tidak terlalu menonjolkan diri. Salah satu karyanya yang terkenal dan diwarisi hingga kini adalah Ratib Al Attas adalah salah satu amalan Thariqah Awaliyyah yang menjadi bagian dari rutinitas pengikut habib saat ini. Ratib ini merupakan amalan induk marga Al Attas yang diamalkan secara turun temurun, serta disebarluaskan oleh para habib saat berkunjung ke berbagai tempat banyak keutamaan yang bisa didapat seorang Muslim yang membaca dzikir Ratib Al Attas. Untuk mengetahuinya, simak penjelasan Ratib Al AttasIlustrasi Dzikir Ratib Al Attas. Foto ini disebutkan dalam kitab Al Qirthas Syarah Rattib Al Attas, antara lain1. Diberikan Kelapangan dan Keberkahan oleh Allah satu manfaat Ratib Al Attas yang disebutkan secara eksplisit dalam kitab Al Qirthas Syarah Rattib Al Attas adalah bahwa bacan ini dapat membawa keberkahan dan kelapangan bagi setiap umat yang mengamalkannya.โ€œSayyid al-Imam Isa bin Muhammad al-Habsyi berkata Diriwayatkan dari Tuanku Umar penyusun Ratib al-Attas perkataan yang cukup banyak tentang keutamaan Ratib ini. Pernah suatu ketika datang kepada Sayyid Umar orang-orang yang berkeluh kesah tentang sengsara dan sulitnya mencari biaya hidup, lalu beliau memerintahkan pada mereka untuk membaca ratib ini dan membaca bacaan tauhid Lรข ilรขha illa Allรขh setelahnya. Mereka pun melakukan perintah itu, tak lama kemudian Allah memberikan kelapangan pada mereka lantaran keberkahan Ratib al-Attas."2. Menjaga Suatu Perkampungan dari PetakaTidak hanya memiliki fadhilah bagi pribadi, Ratib Al Attas disebut-sebut dapat membawa keberuntungan bagi suatu perkampungan atau daerah. Ratib ini bisa menjaga penghuninya dari segala malapetaka yang menghampiri mereka.โ€œTelah sampai padaku riwayat dari Syekh Ali bin Abdillah Baraโ€™as bahwa Roti ini ketika dibaca di perkampungan atau di sebuah daerah maka penghuni perkampungan atau daerah tersebut akan aman dari petaka dan Ratib ini menjaga mereka serta melindungi mereka dari petaka, layaknya dijaga 70 penunggang kuda, hal ini sudah tidak diragukan lagiโ€ Sayyid Ali bin Hasan bin Abdillah al-Attas, Al-Qirthas Syarah Ratib al-Attas, hal. 9.3. Diampuni Dosa-dosanyaSayyidโ€™Isa berkata โ€œTelah mengkhabarkan kepadaku orang yang terpercaya, ia meriwayatkan dari Syekh Ali bin Abdullah Baraโ€™as, murid dari Sayyid Umar bahwa ia melihat tulisan yang didalamnya tercatat Barang siapa yang tekun mengamalkan ratib ini, maka dosa-dosanya diharapkan dapat diampuniโ€™,โ€ Sayyid Ali bin Hasan bin Abdillah al-Attas, Al-Qirthas Syarah Ratib al-Attas, hal. 8.Cara Mengamalkan Ratib Al AttasIlustrasi mengamalkan dzikir ratib al dari buku Amalan Sehari-hari oleh Pesantren Al Khairaat, cara mengamalkan Ratib Al Attas dapat dilakukan dengan membacanya secara samar atau pelan-pelan tatkala seseorang membaca dzikir ini sendirian. Sedangkan saat membaca secara berjamaah, maka dibaca dengan suara sedang, tidak terlalu pelan tapi juga tidak terlalu ulama berkata, Sayyid Umar senang membaca ratib ini dengan suara yang pelan. Beliau tidak menyukai membaca dengan lantang dan keras. Selain itu, membaca samar lebih dekat untuk mencapai Al Attas Dibaca Kapan?Sejatinya, Ratib Al Attas bisa dibaca kapan saja. Namun, kitab Al Qirthas Syarah Rattib Al Attas menyebutkan waktu membaca Ratib Al Attas yang disarankan, yakni setelah sholat Isya.โ€œTelah menjadi tradisi bagi para sesepuh kami, khususnya tradisi dari al-Habib Husein bin Umar membaca Ratib al-Attas adalah setelah solat Isyaโ€™. Kebiasaan itu dilakukan oleh Habib Husein beserta pengikut-pengikutnya secara turun-temurun kecuali di bulan Ramadhan.โ€Di bulan Ramadhan, Ratib Al Attas lebih dianjurkan untuk dibaca sebelum sholat Isya. Ada pula yang lebih gemar membacanya di pagi dan sore hari, sebab dalam hadits-hadits Nabi SAW ada beberapa kalimat dzikir yang disunnahkan dibaca di waktu-waktu Ratib Al AttasSetelah mengetahui keutamaan dan waktu membacanya, amalkan sunnah tersebut dengan membaca bacaan Ratib Al Attas dalam bahasa Arab dan latinnya berikut Al Attas ArabุงูŽู„ู’ููŽุงุชูุญูŽุฉู ุงูู„ูŽู‰ ุญูŽุถู’ุฑูŽุฉู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุขู„ูู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ, ุงูŽุนููˆุฐูุจูุงู„ู„ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุฌููŠู’ู…ู ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ุฑูŽุจูู‘ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู’ู†ูŽโ€ฆ ุงู„ุฎุฑุณููˆู’ุฑูŽุฉู ุงู„ู’ููŽุงุชูุญูŽุฉ3x ุงูŽุนููˆู’ุฐูุจูุง ู„ู„ู‡ู ุงู„ุณูŽู‘ู…ููŠู’ุนู ุงู„ู’ุนูŽู„ููŠู’ู…ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุง ู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุฌููŠู’ู…ูู„ูŽูˆู’ุงูŽู†ู’ุฒูŽู„ู’ู†ูŽุง ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฌูŽุจูŽู„ู ู„ูŽุฑูŽุงูŽูŠู’ุชูŽู‡ู ุฎูŽุงุดูุนู‹ุง ู…ูุชูŽุตูŽุฏูู‘ุนู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฎูŽุดู’ูŠูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู’ู„ุงูŽู…ู’ุซูŽุงู„ู ู†ูŽุถู’ุฑูุจูู‡ูŽุง ู„ูู„ู†ูŽุงุณู ู„ูŽุนูŽู„ูŽู‘ู‡ูู…ู’ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู’ ู„ุงูŽุงูู„ูŽู‡ูŽ ุงูู„ุงูŽู‘ ู‡ููˆูŽุนูŽุงู„ูู…ู ุงู’ู„ุบูŽูŠู’ุจู ูˆูŽุงู„ุดูŽู‘ู‡ูŽุงุฏูŽุฉู ู‡ููˆูŽุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญููŠู’ู…ูู‡ููˆูŽุงู„ู„ู‡ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู’ ู„ุข ุงูู„ูŽู‡ูŽ ุงูู„ุงูŽู‘ ู‡ููˆูŽุงู’ู„ู…ูŽู„ููƒู ุงู’ู„ู‚ูุฏูู‘ูˆู’ุณู ุงู„ุณูŽู‘ู„ุงูŽู…ู ุงู’ู„ู…ูุคู’ู…ูู†ู ุงู’ู„ู…ูู‡ูŽูŠู’ู…ูู†ู ุงู’ู„ุนูŽุฒููŠู’ุฒูุงู’ู…ุฌูŽุจูŽุงุฑู ุงู’ู„ู…ูุชูŽูƒูŽุจูู‘ุฑู ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู…ูŽู‘ุงูŠูุดู’ุฑู ูƒููˆู’ู†ูŽู‡ููˆูŽุงู„ู„ู‡ู ุงู’ู…ุฎูŽุงู„ูู‚ู ุงู’ู„ุจูŽุงุฑูุฆู ุงู’ู„ู…ูุตูŽูˆูู‘ุฑูู„ูŽู‡ู ุงู’ู„ุงูŽุณู’ู…ูŽุงุกู ุงู’ู…ุญูุณู’ู†ูŽู‰ ูŠูุณูŽุจูู‘ุญู ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุงููู‰ ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽูˆูŽุงุชู ูˆูุงู’ู„ุงูŽุฑู’ุถู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุนูŽุฒููŠู’ุฒูุงู’ู…ุญูŽูƒููŠู’ู…ู3x ุงูŽุนููˆู’ุฐูุจูุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุณูŽู‘ู…ููŠู’ุญู ุงู’ู„ุนูŽู„ููŠู’ู…ู ู…ูู†ู’ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุฌููŠู’ู…ู3x ุงูŽุนููˆู’ุฐู ุจููƒูŽู„ูู…ูŽุงุชู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุชูŽู‘ุง ู…ูŽู‘ุงุชู ู…ูู†ู’ ุดูŽุฑูู‘ู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ3x ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู’ ู„ุงูŽูŠูŽุถูุฑูู‘ู…ูŽุนูŽ ุงุณู’ู…ูู‡ู ุดูŽู‰ู’ุกูŒ ููู‰ ุงู’ู„ุงูŽุฑู’ุถู ูˆูŽู„ุงูŽููู‰ ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽุงุกู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ุณูŽู‘ู…ููŠู’ุนู ุงู„ู’ุนูŽู„ููŠู’ู…ู3x ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ูˆูŽู„ุงูŽ ู‚ููˆูŽู‘ุฉูŽ ุงูู„ุงูŽู‘ุจูุงู„ู„ู‡ู ุงู„ู’ุนูŽู„ููŠูู‘ ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู’ู…ู ุนูŽุดู’ุฑู‹ุง ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญููŠู’ู…ู3x ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุญูŽุตูŽู‘ู†ูŽู‘ุง ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽูˆูŽูƒูŽู‘ู„ู’ู†ูŽุง ุจูุง ู„ู„ู‡ู3x ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุขู…ูŽู†ูŽู‘ุงุจูุงู„ู„ู‡ู. ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูุคู’ ู…ูู†ู’ ุจูุงู„ู„ู‡ู ู„ุงูŽุฎูŽูˆู’ููŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู3x ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽุฒูŽู‘ุงู„ู„ู‡ู. ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุฌูŽู„ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ู3x ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู’ู…ู3x ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏูู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽู„ุข ุงูู„ูŽู‡ูŽ ุงูู„ุงูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู ุงูŽูƒู’ุจูŽุฑู ุงูŽุฑู’ุจูŽุนู‹ุง ูŠูŽุงู„ูŽุทููŠู’ูู‹ุง ุจูุฎูŽู„ู’ู‚ูู‡ู ูŠูŽุงุนูŽู„ููŠู’ู…ู‹ุง ุจูุฎูŽู„ู’ู‚ูู‡ู ูŠูŽุงุฎูŽุจููŠู’ุฑู‹ุง ุจูุฎูŽู„ู’ู‚ูู‡ู. ุงูู„ู’ุทููู’ ุจูู†ูŽุงูŠูŽุงู„ูŽุทููŠู’ูู,ูŠูŽุงุนูŽู„ููŠู’ู…ู ูŠูŽุงุฎูŽุจููŠู’ุฑู‹ 3x ูŠูŽุง ู„ูŽุทููŠู’ูู‹ุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฒูŽู„ู’. ุงูู„ู’ุทููู’ ุจูู†ูŽุงูููŠู’ู…ูŽุงู†ูŽุฒูŽู„ู’ ุงูู†ูŽู‘ูƒูŽ ู„ูŽุทููŠู’ููŒ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽุฒูŽู„ู’. ุงูู„ู’ุทููู’ ุจูู†ูŽุงูˆูŽ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู’ู†ูŽ3x ู„ุข ุงูู„ูŽู‡ูŽ ุงูู„ุงูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ู ุงูŽุฑู’ุจูŽุนููŠู’ู†ูŽ ู…ูŽุฑูŽู‘ุฉู‹ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏูŒ ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ูŽ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุขู„ูู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ. ุญูŽุณู’ุจูู†ูŽุง ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽู†ูุนู’ู…ูŽ ุงู„ู’ูˆูŽูƒููŠู’ู„ู ุณุจุนุง ุงูŽู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุตูŽู„ูู‘ ุนูŽู„ูŽู‘ู‰ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู. ุงูŽู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุตูŽู„ูู‘ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูู‘ู…ู’10x ุงูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑูŽุงู„ู„ู‡ูŽ ุงุง ู…ูŽุฑูŽู‘ุฉู‹. ุชูŽุงุฆูุจููˆู’ู†ูŽ ุงูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู3x ูŠูŽุงุงูŽู„ู„ู‡ู ุจูู‡ูŽุง ูŠูŽุงุงูŽู„ู„ู‡ู ุจูุญูุณู’ู†ู ุงู’ู„ุฎูŽุงุชูู…ูŽุฉู3x ุบููู’ุฑูŽุง ู†ูŽูƒูŽ ุฑูŽุจูŽู‘ู†ูŽุง ูˆูŽุงูู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุงู’ู„ู…ูŽุตููŠู’ุฑู ู„ุงูŽูŠููƒูŽู„ููู ุงู„ู„ู‡ู ู†ูŽูู’ุณู‹ุง ุงูู„ุงูŽู‘ ูˆูุณูุนูŽู‡ูŽุง ู„ูŽู‡ูŽุง ู…ูŽุง ุงูƒูŽุณูŽุจูŽุชู’ ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ู…ูŽุง ุงูƒูŽุชูŽุณูŽุจูŽุชู’ ุฑูŽุจูŽู‘ู†ูŽุง ู„ุงูŽ ุชูุคูŽุง ุฎูุฐู’ู†ูŽุง ุงูู†ู’ ู†ูŽุณููŠู’ู†ูŽุง ุงูŽูˆู’ุงูŽุฎู’ุทูŽุฃู’ ู†ูŽุง ุฑูŽุจูŽู‘ู†ูŽุง ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุญู’ู…ูู„ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ุงูุตู’ุฑู‹ุง ูƒูŽู…ูŽุง ุญูŽู…ูŽู„ู’ุชูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู’ู†ูŽ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ูู†ูŽุง ุฑูŽุจูŽู‘ู†ูŽุง ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูุญูŽู…ูู‘ู„ู’ู†ูŽุง ู…ูŽุง ู„ุงูŽ ุทูŽุง ู‚ูŽุฉูŽู„ูŽู†ูŽุง ุจูู‡ู ูˆูŽุงุนู’ูู ุนูŽู†ูŽู‘ุง ูˆูŽุงุบู’ููุฑู’ู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽุงุฑู’ุญูŽู…ู’ู†ูŽุง ุงูŽู†ู’ุชูŽ ู…ูŽูˆู’ู„ุงูŽ ู†ูŽุง ููŽุงู†ู’ุตูุฑู’ู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู’ู„ู‚ูŽูˆู’ู…ู ุงู’ู„ูƒูŽุง ุงูู„ูŽู‰ ุฑููˆู’ุญู ุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ูŽุงูˆูŽ ุญูŽุจููŠู’ุจูู†ูŽุงูˆูŽ ุดูŽูููŠู’ุนูู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ,ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ุจูู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏูุงู„ู„ู‡ู , ูˆูŽุงูŽู„ูู‡ู ูˆูŽุงูŽุตู’ุญูŽุงุจูู‡ู ูˆูŽุงูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌูู‡ู ูˆูŽุฐูุฑูู‘ูŠูŽู‘ุชูู‡ู , ุงูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูŠูุนู’ู„ู‰ู ุฏูŽุฑูŽุฌูŽุงุชูู‡ูู…ู’ ููู‰ ุงู’ู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉู ูˆูŽ ูŠูŽู†ู’ููŽุนูู†ูŽุง ุจูุงูŽุณู’ุฑูŽุงุฑู ู‡ูู…ู’ ูˆูŽุงูŽู†ู’ูˆูŽุงุฑูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุนูู„ููˆู’ู…ูู‡ูู…ู’ ููู‰ ุงู„ุฏูู‘ ูŠู’ู†ู ูˆูŽุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู’ู„ุข ุฎูุฑูŽุฉู ูˆูŽูŠูŽุฌู’ุนูŽู„ูู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ุญูุฒู’ ุจูู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุฑู’ุฒู ู‚ูู†ูŽุง ู…ูŽุญูŽุจูŽู‘ุชูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุชูŽูˆูŽููŽู‘ุงู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูู„ูŽู‘ุชูู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุญู’ุดูุฑูู†ูŽุงููู‰ ุฒูู…ู’ุฑูŽ ุชูู‡ูู…ู’ . ููู‰ ุฎูŽูŠู’ุฑู ูˆูŽ ู„ูุทู’ูู ูˆูŽุนูŽุงูููŠูŽุฉู , ุจูุณูุฑูุงู„ู’ููŽุง ุชูุญูŽุฉู’ ุงูŽู„ู’ููŽุงุชูุญูŽุฉู ุงูู„ูŽู‰ ุฑููˆู’ุญู ุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ูŽุง ุงู„ู’ู…ูู‡ูŽุง ุฌูุฑู’ ุงูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ูุงูŽุญู’ู…ูŽุฏู’ ุจูู†ู’ ุนููŠู’ุณูŽู‰ ูˆูŽุงูู„ูŽู‰ ุฑููˆู’ุญู ุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ูŽุงุงู’ู„ุงู ุณู’ุชูŽุงุฐู ุงู’ู„ุงูŽุนู’ุธูŽู…ู ุงูŽู„ู’ููŽู‚ููŠู’ู‡ู ุงู„ู’ู…ูู‚ูŽุฏูŽู‘ู…ู , ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ุจู’ู†ู ุนูŽู„ููŠู‘ ุจูŽุงุนูŽู„ูŽูˆููŠู’ ูˆูŽุงูุตููˆู’ู„ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽููุฑููˆู’ุนูู‡ูู…ู’ , ูˆูŽุฐูŽูˆูู‰ู’ ุงู„ู’ุญูู‚ููˆู’ู‚ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุงูŽุฌู’ู…ูŽุนููŠู’ู†ูŽ ุงูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูŠูŽุบู’ููุฑู ู„ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุฑู’ ุญูŽู…ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูุนู’ู„ููŠู’ ุฏูŽุฑูŽุฌูŽุงุชูู‡ูู…ู’ ููู‰ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉู , ูˆูŽูŠูŽู†ู’ููŽุนูู†ูŽุง ุจูุงูŽุณู’ุฑูŽุงุฑูู‡ูู…ู’ูˆูŽุงูŽู†ู’ูˆูŽุงุฑูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุนูู„ููˆู’ ู…ูู‡ูู…ู’ ููู‰ ุงู„ุฏูู‘ ูŠู’ู†ู ูˆูŽุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุงูˆูŽุงู’ู„ุงูŽุฎูุฑูŽุฉู . ุงูŽู„ู’ููŽุง ุชูุญูŽุฉูุงูŽู„ู’ููŽุงุชูุญูŽุฉู ุงูู„ูŽู‰ ุฑููˆู’ุญู ุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ูŽุง ูˆูŽุญูŽุจููŠู’ุจูู†ูŽุง ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู†ูŽุง ุตูŽุงุญูุจู ุงู„ุฑูŽู‘ุงุชูุจู ู‚ูุทู’ุจู ุงู’ู„ุงูŽู†ู’ููŽุงุณู ุงูŽู„ู’ุญูŽุจููŠู’ุจู ุนูู…ูŽุฑู’ ุจูู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏูุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ุงู„ู’ุนูŽุทูŽู‘ุงุณู’ , ุซูู…ูŽู‘ ุงูู„ูŽู‰ ุฑููˆู’ุญู ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุฎู ุนูŽู„ููŠูู‘ ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุจูŽุงุฑูŽุงุณู’ , ุซูู…ูŽู‘ ุงูู„ูŽู‰ ุฑููˆู’ุญู ุงูŽู„ู’ุญูŽุจููŠู’ุจ ุนูŽุจู’ุฏูุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ุจูู†ู’ ุนูŽู‚ููŠู’ู„ ุงูŽู„ู’ุนูŽุทูŽู‘ุงุณู’ , ุซูู…ูŽู‘ ุงูู„ูŽู‰ ุฑููˆู’ุญู ุงูŽู„ู’ุญูŽุจููŠู’ุจ ุญูุณูŽูŠู’ู† ุจูู†ู’ ุนูู…ูŽุฑู’ ุงูŽู„ู’ุนูŽุทูŽู‘ุงุณู’ ูˆูŽุงูุฎู’ูˆูŽุงู†ูู‡ู ุซูู…ูŽู‘ ุงูู„ูŽู‰ ุฑููˆู’ุญู ุนูŽู‚ููŠู’ู„ ูˆูŽุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุตูŽุง ู„ูุญู’ ุจูู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏูุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ุงูŽู„ู’ุนูŽุทูŽู‘ุงุณู’ ุซูู…ูŽู‘ ุงูู„ูŽู‰ ุฑููˆู’ุญู ุงูŽู„ู’ุญูŽุจููŠู’ุจ ุนูŽู„ููŠูู‘ ุจู’ู†ู ุญูŽุณูŽู†ู’ ุงูŽู„ู’ุนูŽุทูŽู‘ุงุณู’ ุซูู…ูŽู‘ ุงูู„ูŽู‰ ุฑููˆู’ุญู ุงูŽู„ู’ุญูŽุจููŠู’ุจ ุงูŽุญู’ู…ูŽุฏู’ ุจูู†ู’ ุญูŽุณูŽู†ู’ ุงูŽู„ู’ุนูŽุทูŽู‘ุงุณู’ ูˆูŽุงูุตููˆู’ู„ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽููุฑููˆู’ุนูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฐูŽูˆูู‰ ุงู„ู’ุญูู‚ููˆู’ู‚ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุงูŽุฌู’ู…ูŽุนููŠู’ู†ูŽ ุงูŽู†ูŽู‘ุงู„ู„ู‡ูŽ ูŠูŽุบู’ููุฑู ู„ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุฑู’ ุญูŽู…ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูุนู’ู„ูู‰ ุฏูŽุฑูŽุฌูŽุง ุชูู‡ูู…ู’ ููู‰ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉู ูˆูŽูŠูŽู†ู’ููŽุนูู†ูŽุง ุจูุงูŽุณู’ุฑูŽุงุฑูู‡ูู…ู’ูˆูŽุงูŽู†ู’ูˆูŽุงุฑูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุนูู„ููˆู’ ู…ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽู†ูŽููŽุญูŽุง ุชูู‡ูู…ู’ ููู‰ ุงู„ุฏูู‘ ูŠูู†ู ูˆูŽุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุงูˆูŽุงู’ู„ุขุฎูุฑูŽุฉู ุงูŽู„ู’ููŽุง ุชูุญูŽุฉู’ุงูŽู„ู’ููŽุงุชูุญูŽุฉู ุงูู„ูŽู‰ ุงูŽุฑู’ูˆูŽุญู ุงู’ู„ุงูŽูˆู’ุงู„ููŠูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ุดูู‘ู‡ูŽุฏูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ุตูŽู‘ุง ู„ูุญููŠู’ู†ูŽ . ูˆูŽุงู’ู„ุงูŽ ุฆูู…ูŽู‘ุฉู ุงู„ุฑูŽู‘ุงุดูุฏู ูŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงูู„ูŽู‰ ุงูŽุฑู’ูˆูŽุงุญู ูˆูŽุงู„ูุฏููŠู’ู†ูŽุง ูˆูŽู…ูŽุดูŽุง ูŠูุฎูู†ูŽุง ูˆูŽุฐูŽูˆูู‰ุงู„ู’ุญูู‚ููˆู’ู‚ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุงูŽุฌู’ู…ูŽุนููŠู’ู†ูŽ , ุซูู…ูŽู‘ ุงูู„ูŽู‰ ุงูŽุฑู’ูˆูŽุงุญู ุงูŽู…ู’ูˆูŽุงุชู ุงูŽู‡ู’ู„ู ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ุจูŽู„ู’ุฏูŽุฉู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ูŽุงุชู ุงูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูŠูŽุบู’ููุฑูู„ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุฑู’ุญูŽู…ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูุนู’ู„ูู‰ ุฏูŽุฑูŽุฌูŽุงุชูู‡ูู…ู’ ููู‰ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉู ูˆูŽูŠูุนููŠู’ุฏู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ุงูŽุณู’ุฑูŽ ุงุฑูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุงู†ู’ูˆูŽ ุงุฑูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุนูู„ููˆู’ ู…ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡ูู…ู’ ููู‰ ุงู„ุฏูู‘ ูŠู’ู†ู ูˆูŽุงู„ุฏูู‘ ู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู’ู„ุข ุฎูุฑูŽุฉู . ุจูุงู„ู’ู‚ูŽุจููˆู’ู„ู ูˆูŽุชูŽู…ูŽุงู…ู ูƒูู„ูู‘ ุณููˆู’ู„ู ูˆูŽู…ูŽุฃู’ู…ููˆู’ู„ู ูˆูŽุตูŽู„ุงูŽุญู ุงู„ุดูŽู‘ุฃู’ู†ู ุธูŽุง ู‡ูุฑู‹ุง ูˆูŽุจูŽุง ุทูู†ู‹ุงููู‰ ุงู„ุฏูู‘ูŠู’ู†ู ูˆูŽุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู’ู„ุขุฎูุฑูŽุฉู ุฏูŽุงููุนูŽุฉู‹ ู„ููƒูู„ูู‘ุดูŽุฑูู‘ุฌูŽุงู„ูุจูŽุฉู‹ ู„ููƒูู„ูู‘ ุฎูŽูŠู’ุฑู , ู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽู„ููˆูŽ ุงู„ูุฏููŠู’ู†ูŽุง ูˆูŽุงูŽูˆู’ู„ุงูŽุฏูู†ูŽุงูˆูŽุงูŽุญู’ุจูŽุง ุจูู†ูŽุง ูˆูŽู…ูŽุดูŽุง ุฆูุฎูู†ูŽุง ููู‰ ุงู„ุฏูู‘ ูŠู’ู†ู ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู„ูู‘ุทู’ูู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุง ูููŠูŽุฉู ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ู†ููŠูŽู‘ุฉู ุงูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูŠูู†ูŽูˆูู‘ุฑู ู‚ูู„ููˆู’ ุจูŽู†ูŽุง ูˆูŽู‚ูŽูˆูŽ ุงู„ูุจูŽู†ูŽุง ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ู‡ูุฏูŽู‰ ูˆูŽุงู„ุชูŽู‘ู‚ูŽู‰ ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽููŽุงูู ูˆูŽุงู„ู’ุบูู†ูŽู‰ . ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฏููŠู’ู†ู ุงู’ู„ุงูุณูŽู„ุงูŽู…ู ูˆูŽุงู’ู„ุงู ูŠู’ู…ูŽุงู†ู ุจูู„ุงูŽ ู…ูุญู’ู†ูŽุฉููˆูŽู„ุงูŽ ุงูู…ู’ุชูุญูŽุงู†ู , ุจูุญูŽู‚ูู‘ ุณูŽูŠูู‘ุฏู ู†ูŽุงูˆูŽู„ูŽุฏู ุนูŽุฏู’ ู†ูŽุงู†ู , ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ูู‘ ู†ููŠูŽู‘ุฉู ุตูŽุงู„ูุญูŽุฉู .ูˆูŽุงูู„ูŽู‰ ุญูŽุถู’ุฑูŽุฉู ุงู„ู†ูŽูู‘ุจูŠูู‘ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุขู„ูู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุงูŽู„ู’ููŽุงุชูุญูŽุฉู’ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุฑูŽู‘ ุญู’ู…ูŽู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ ุญููŠู’ู…ู. ุงูŽู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ุฑูŽุจูู‘ ุงู„ู’ุนูŽุง ู„ูŽู…ููŠู’ู†ูŽ ุญูŽู…ู’ุฏู‹ุง ูŠููˆูŽุงููู‰ ู†ูุนูŽู…ูŽู‡ู ูˆูŽูŠููƒูŽุงููู‰ุกู ู…ูŽุฒููŠู’ุฏูŽู‡ู, ูŠูŽุง ุฑูŽุจูŽู‘ู†ูŽุง ู„ูŽูƒูŽ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูŽู†ู’ุจูŽุบูู‰ู’ ู„ูุฌูŽู„ุงูŽู„ู ูˆูŽุฌู’ู‡ููƒูŽ ูˆูŽุนูŽุธููŠู’ู…ู ุณูู„ู’ุทูŽุง ู†ููƒู’, ุณูุจู’ุญูŽุง ู†ูŽูƒูŽ ู„ุงูŽ ู†ูุญู’ุตููŠู’ ุซูŽู†ูŽุง ุกู‹ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุงูŽู†ู’ุชูŽ ูƒูŽู…ูŽุง ุงูŽุซู’ู†ูŽูŠู’ุชูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู†ูŽูู’ุณููƒูŽ, ููŽู„ูŽูƒูŽ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ุญูŽุชู‰ูŽู‘ ุชูŽุฑู’ุถูŽู‰, ูˆูŽู„ูŽูƒูŽ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ุงูุฐูŽุงุฑูŽุถููŠู’ุชูŽ, ูˆูŽู„ูŽูƒูŽ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ุฑูู‘ุถูŽู‰. ุงูŽู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุตูŽู„ูู‘ ูˆูŽุณูŽู„ูู‘ู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ููู‰ ุงู’ู„ุงูŽูˆูŽู‘ู„ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุตูŽู„ูู‘ ูˆูŽุณูŽู„ูู‘ู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ู‘ุง ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ููู‰ ุงู’ู„ุข ุฎูุฑููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุตูŽู„ูู‘ ูˆูŽุณูŽู„ูู‘ู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ููู‰ ูƒูู„ูู‘ ูˆูŽู‚ู’ุชู ูˆูŽุญููŠู’ู†ู, ูˆูŽุตูŽู„ูู‘ ูˆูŽุณูŽู„ูู‘ู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ููู‰ ุงู„ู’ู…ูŽู„ูŽุฅู ุงู’ู„ุงูŽ ุนู’ู„ูŽู‰ ุงูู„ูŽู‰ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุฏูู‘ูŠู’ู†ู, ูˆูŽุตูŽู„ูู‘ ูˆูŽุณูŽู„ูู‘ู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ุญูŽุชู‰ูŽู‘ ุชูŽุฑูุซูŽ ุงู’ู„ุงูŽุฑู’ุถูŽ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูˆูŽุงูŽู†ู’ุชูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู’ูˆูŽุงุฑูุซููŠู’ู†ูŽ. ุงูŽู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุงูู†ูŽู‘ุง ู†ูŽุณู’ุชูŽุญู’ููุธููƒูŽ ูˆูŽู†ูŽุณู’ุชูŽูˆู’ ุฏูุนููƒูŽ ุงูŽุฏู’ูŠูŽุง ู†ูŽู†ูŽุง ูˆูŽุงูŽู†ู’ููุณูŽู†ูŽุง ูˆูŽุงูŽู…ู’ูˆูŽ ุงู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽุงูŽู‡ู’ู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽูƒูู„ูŽู‘ ุซูŽูŠู’ุกู ุงูŽุนู’ุทูŽูŠู’ุชูŽู†ูŽุง. ุงูŽู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุงุฌู’ุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ูˆูŽุงููŠูŽู‘ุง ู‡ูู…ู’ ููู‰ ูƒูŽู†ูŽูููƒูŽ ูˆูŽุงูŽู…ูŽุงู†ููƒูŽ ูˆูŽุนููŠูŽุงุฐููƒูŽ, ู…ูู†ู’ ูƒูู„ูู‘ ุดูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ู…ูŽุฑููŠู’ุฏู ูˆูŽุฌูŽุจูŽู‘ุงุฑู ุนูŽู†ููŠู’ุฏู ูˆูŽุฐูู‰ู’ ุนูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽุฐููŠู’ ุจูŽุบู’ูŠู ูˆูŽุฐููŠู’ ุญูŽุณูŽุฏู ูˆูŽู…ูู†ู’ ุดูŽุฑูู‘ ูƒูŽู„ูู‘ ุฐููŠู’ ุดูŽุฑูู‘, ุงูู†ูŽู‘ูƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ูู‘ ุดู‘ูŠู’ู‰ุกู ู‚ูŽุฏููŠู’ุฑู. ุงูŽู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุฌูŽู…ูู‘ู„ู’ู†ูŽุง ุจูุงู„ู’ุนูŽุง ูููŠูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุณูŽู‘ู„ุงูŽ ู…ูŽุฉู, ูˆูŽุญูŽู‚ูู‚ู’ู†ูŽุง ุจูุงุงุชูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ูˆูŽุงู’ู„ุงูุณู’ุชูู‚ูŽุงู…ูŽุฉู ูˆูŽุงูุนูุฐู’ู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ู…ููˆู’ ุฌูุจูŽุง ุชู ุงู„ู†ูŽู‘ุฏูŽุง ู…ูŽุฉูููู‰ ุงู’ู„ุญูŽุงู„ู ูˆูŽุงู’ู„ู…ูŽุงู„ู, ุงูู†ูŽู‘ูƒูŽ ุณูŽู…ููŠู’ุนู ุงู„ุฏูู‘ุนูŽุงุกู. ูˆูŽุตูŽู„ูู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุจูุฌูŽู„ุงูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽุฌูŽู…ูŽุงู„ููƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุขู„ูู‡ู ูˆูŽุตูŽุญู’ุจูู‡ู ุงูŽุฌู’ู…ูŽุนููŠู’ู†ูŽ, ูˆูŽุงุฑู’ุฒูู‚ู’ู†ูŽุง ูƒูŽู…ูŽุงู„ูŽ ุงู’ู„ู…ูุชูŽุง ุจูŽุนูŽุฉู ู„ูŽู‡ู ุธูŽุง ู‡ูุฑู‹ุง ูˆูŽุจูŽุง ุทูู†ู‹ุง ูŠูŽุง ุงูŽุฑู’ุญูŽู…ูŽ ุงู„ุฑูŽู‘ุงุญูู…ููŠู’ู†ูŽ, ุจูููŽุถู’ู„ู ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุจูู‘ูƒูŽ ุฑูŽุจูู‘ ุงู’ู„ุนูุฒูŽู‘ุฉู ุนูŽู…ูŽู‘ุง ูŠูŽุตููููˆู’ู†ูŽ. ูˆูŽุณูŽู„ุงูŽู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู’ู„ู…ูุฑู’ุณูŽู„ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏูู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ุฑูŽุจูู‘ ุงู’ู„ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู’ู†ูŽRatib Al Attas Latin dan ArtinyaAlfatehah ilaa hadlroti nabbiyi musthofa sayyyidina rosulillahi shollallahu alahi wassalam wa aalihi wa ash ha bihi wa azwaa jihi wa dzurriyyaatihi wa ahli baytihi wa mau ilaa ruhi Habib Umar bin Abdurrohman Al Athos Shohibirrotib qutbil anfas Wa Syaih ali bin Abdullah baaros. Alfatehah Baca Surat Al FatihahAโ€™udzubillahis sami il alim minasysyaithonirrojim 3xAku berlindung pada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan Syethan yang terkutukLau angsalna haa dzal qurโ€™aan alaa jabalil laro aitahu khosyiam mutashoddiโ€™am min khosy yatillah watilkal amtsaalu nadlribuhaa linnaasi laโ€™allakum ya tafakkarun.Andaikata Kami turunkan Qurโ€™an ini di atas gunung, niscaya kamu akan melihatnya tunduk dan terpecah-pecah kerena sangat takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia, agar supaya mereka berpikirHuwallaahulladzi Laa ilaaha illa huwa aalimul ghoibi wasy syahadah. Huwarrohmaanurrohim.Dialah Allah, yang tiada Tuhan kecuali Dia. Yang Maha Mengetahui yang samar dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pengasih lagi PenyayangHuwallaahulladzi Laa ilaaha illa huwal malikul qudduusus salaamul mukminul muhaiminul aziizul jabbaarul mutakabbir.Dialah Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia Raja yang Maha suci,yang maha sejahtera, yang mengaruniakan keamanan, yang Maha memelihara, Yang maha Perkasa, Yang maha kuasa. Yang memiliki segala keagunganSubhaanallaahi ammaa yusyrikun .Huwallaahul kholiqul baariul mushowwiru lahul asma ul husana. Yusab bihu lahuu maa fissamaa waati wal ardh wahuwal aziizul hakim.Maha suci Allah dari segala apa yang mereka sekutukan. Dialah yang menciptkan,Yang mengadakan, Yang membentuk rupa, yang mempunyai nama-nama yang bagus. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada dilangit dan dibumi, dan Dialah yang Maha Perkasa dan Maha bijaksana.Aโ€™udzubillahis sami il alim minasysyaithonirrojim 3xAku berlindung pada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan Syethan yang terkutukAโ€™udzu bikalimatillaahittammati ming syarrimaakholaq 3xAku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah Yang sempurna dari kejelekan sesuatu yang diciptakan.Bismillaahilladzi laa yadluru maโ€™asmihi syaiun fil ardli walaa fissama-I wahuwas samii ul alim 3xDengan nama Allah tidak akan bisa mencelakakan apa-apapun di bumi dan di langit bersama nama-Nya. Dia Maha Mendengar dan Maha MelihatBismillaahir rohmaanir rohiim walaa haula walaa quwwata illaa billaa hil aliyil adhim 10xDengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha AgungBismillaahir rohmaanir rohiim 3xDengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Bismillaahi tahash shona billahi bismillaahi tawakkalna billlah 3xDengan nama Allah aku berlindung dengan Allah, Dengan nama Allah aku berserah diri kepada Allah.Bismillaahi amanna billahi wamayyukmimbillahi Laa khaufun alaih 3xDengan nama Allah aku beriman kepada Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka tiada takut azzallahi Subhaanallahi jallallh Baca 3 kaliMaha suci Allah, Maha Mulia Allah,Maha suci Allah Maha Agung AllahSubhaanallahi wabihmamdihi Subhaanallaahil adhim Baca 3 kaliMaha suci Allah dan memuji kepada-Nya, Maha suci Allah yang Maha AgungSubhaanallahi walahamdu lillahi walaa ilaa ha illallahu waallahu akbar Baca 4 kali Maha suci Allah dan segala puji bagi Allah dan Tiada Tuhan kecuali Allah, dan Allah Maha AgungYaa lathifan bikholqihi Yaa aliman bikholqihi Yaa Khobiron bikholqihi ulthuf binaa Yaa lathif Yaa alim Yaa khobir 3xWahai yang Maha Pengasih dengan Makhluk-Nya wahai yang mengetahui dengan makhluk-Nya wahai yang maha waspada dengan makhluk-Nya, kasihanilah kami wahai yang Maha Pengasih, wahai yang Maha Mengetahui wahai yang maha waspadaYaa lathiifal lam yazal ulthuf binaa fiimaa nazal innaka lathiful lam tazal ulthuf bina wal muslimin Baca 3 KaliWahai yang Maha Pengasih yang tiada putus, kasihanilah kami dan orang-orang islamLaa ilaa ha illallah Baca 40x atau, 80 x ,atau 100xTiada tuhan yang disembah kecuali AllahMuhammaadur rosuulullah 1xHasbunallahi waniโ€™mal wakil 7xYang mencukupi kami adalah Allah dan sebaik-baik zat yang dipasrahiAllahumma sholli ala Sayyidina Muhammad, Allahumma sholli alaihi wasallim 10x.Wahai Allah berilah rahmat atas Junjungan kami Muhammad, Yaa Allah limpahkan rahmat kepadanya dan sejahteraAllahumma sholli ala Sayyidina Muhammad, Yaa Robbi sholli alaihi wasalim 1xWahai Allah berilah rahmat atas Junjungan kami Muhammad, Yaa Allah limpahkan rahmat kepadanya dan sejahteraAku mohon ampun kepada AllahTaa ibuu na Ilallaah 3xSemoga aku termasuk golongan orang-orang yang bertobat kepada AllahYaa Allah biha Yaa Allah biha Yaa Allah bihusnil Khotimah 3xWahai Allah dengan kalimatMu, Wahai Allah dengan kalimatMu,Wahai Allah dengan kebaikan di akhir hayatGhufraanaka Rabbanaa wa ilaikal mashiir, Laa yukallifullahu nafsan Illa wusโ€™ahaa, lahaa maa kasabat wa alaihaa maktasabat, Robbana Laa tu โ€“aakhidzna in nasiinaa au akh thoknaa Robbana waala tahmil alaina ishrong kamaa hamaltahu alal lasdzina ming qoblina Robbana walaa tuhammillnaa maa laa thoqotolanaa bih Waโ€™fu annaa waghfir lanaa warhamnaa anta maulaanaa fangsurnaa alal qaumil kaafiriin. 1xAku mohon ampunan-Mu wahai Tuhan kami, dan kepada-Mu lah tempat kembali. Tiada memaksa Allah kepada seseorang kecuali kadar kemampuanya, baginya apa yang dikerjakan,dan baginya siksa sesuatu dikerjakan/dilakukan Wahai Tuhan kami janganlah Engkau siksa aku bila mana aku lupa atau aku Tuhan kami janganlah Engkau bebankan pada kami beban yang berat sebagimana Engkau bebankan pada orang-orang sebelum kami, Wahai Tuhan kami janganlah Engkau pikulkan pada kami, apa yang tak sanggup kami memikulnya, maafkanlah kami dan ampunilah kami dan Rahmatilah kami, Engkau penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.

habib abdurrahman al attas